Walimatul 'Urs
Iffah & Idi
Kepada Bapak/Ibu/Saudara/i
Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan nama/gelar

Love Story

Awal Perkenalan
  • Agustus 2021

Kala itu, pada Agustus 2021, aku mulai mengenal Kak Maman, (Lora Damanhuri), melalui media sosial. Dari perkenalan sederhana di Facebook hingga berlanjut ke Instagram, terus WhatsApp, kami berteman dengan baik. Sosoknya ramah dan kocak, sering membawa obrolan ringan di tengah masa sulit yang sedang kujalani.

Dalam sebuah percakapan yang awalnya hanya candaan, beliau menyarankan agar aku belajar move on dan membuka hati kembali. Dengan nada bercanda pula, aku meminta beliau mencarikan calon, karena aku tidak pandai mencari pasangan dan masih menyimpan trauma. Bahkan aku sempat berpesan agar tidak dicarikan dari kalangan tertentu yakni anak (kiyai) karena ada trauma berat.

Tanpa disangka, candaan itu justru ditanggapi dengan sungguh-sungguh.
Saat itu, Kak Maman masih mondok dan menempuh pendidikan di PP Al-Khoziny Buduran. Ada beberapa orang yang diperkenalkan, namun belum ada yang terasa cocok.

Hingga akhirnya, satu pesan masuk melalui Instagram—dari seorang teman kuliah sekaligus satu pondok dengan Kak Maman. Dari percakapan sederhana itulah, proses mengenal mulai berjalan perlahan dan apa adanya.

Proses Mengenal

Di antara beberapa orang santri yang diperkenalkan oleh Kak Maman dari lingkungan PP Al-Khoziny Buduran, hanya satu yang bertahan hingga hari ini, yaitu kak Zubaidi.
Dengan sikapku yang cenderung dingin dan cuek, ia tetap sabar menjalani proses ini.

Aku adalah tipe orang yang tidak menyukai komunikasi lewat telepon dan lebih nyaman berbincang melalui pesan.
Kebetulan, ia pun sama. Dari kesederhanaan itu, rasa cocok perlahan tumbuh.

Meski begitu, aku tidak menaruh harapan berlebihan karena masih menyimpan trauma. Semua dijalani sewajarnya, sekadar proses saling mengenal.
Sebelum ada ikatan apa pun, ia pernah mengucapkan keyakinan bahwa aku akan menjadi jodohnya, meski saat itu belum sepenuhnya kupercaya.

Hingga akhirnya, pada 31 Oktober 2023, Allah menjawabnya dengan ikatan pertunangan.
Aku belajar bahwa terkadang, laki-laki yang awalnya tidak kita rencanakan, justru hadir dengan kesungguhan dan benar-benar mengusahakan.

🤲🏻 Penantian & Kesungguhan

Saat proses mengenal berjalan, Beliau kak Zubaidi masih mondok dan menempuh pendidikan di PP Al-Khoziny Buduran.
Ada jarak, ada jeda, bahkan sempat kehilangan kabar. Namun niat baik itu selalu menemukan jalannya kembali.

Pertengahan tahun 2023, beliau menyelesaikan masa mondok dan kuliah, lalu boyong dari pesantren.
Dengan langkah yang mantap, beliau memulai fase baru dengan merantau dan bekerja di Jakarta.

Beliau pernah menyampaikan niat baik untuk melamar, namun saat itu keluarganya berpesan bahwa sebelum bekerja dan memiliki kesiapan, belum diperkenankan melangkah sejauh itu.
Di masa awal merintis, kebingungan sempat hadir. Hingga tanpa banyak rencana dan di luar dugaan, justru datang kabar dari pihak keluarga beliau untuk segera melamar—meski kondisi masih sangat sederhana.

Dari situ aku belajar, bahwa kesungguhan tidak selalu datang dalam keadaan yang sempurna, melainkan hadir bersama keberanian untuk bertanggung jawab dan memperjuangkan niat baik.

Jawaban dari Istikharah

Di satu masa, aku diuji dengan dua pilihan yang datang hampir bersamaan.
Hati masih diliputi kebingungan, bukan karena ragu akan niat, tetapi karena luka masa lalu yang membuat langkah terasa berat.

Menyadari keterbatasan diri dan takut keliru jika hanya mengandalkan perasaan, keputusan ini aku serahkan sepenuhnya kepada Allah melalui istikharah, serta kepada orang tua sebagai penuntun hidup.
Dengan ketenangan hati, orang tua meyakini pilihan pada Kak Zubaidi, dan keyakinan itulah yang akhirnya aku ikuti dengan penuh tawakal.

Tak lama setelah itu, Allah meneguhkan jawaban dengan datangnya keluarga beliau, seolah menguatkan bahwa doa yang dipanjatkan telah menemukan jalannya

Ikatan Pertunangan
  • 31 Oktober 2023

Pada 31 Oktober 2023, aku dan beliau resmi terikat dalam pertunangan yang sederhana.
Tanpa kemewahan, tanpa rias dan perayaan besar, bahkan tanpa kehadiran beliau karena tanggung jawab pekerjaan.
Namun justru dari kesederhanaan itu aku belajar, bahwa kesungguhan tidak selalu hadir dalam bentuk yang ramai—cukup dalam niat yang dijaga.

Selepas pertunangan, aku memilih untuk tidak mempublikasikan apa pun.
Bukan tanpa alasan, melainkan karena sejak awal itulah yang kuinginkan. Dalam ajaran Islam pun dianjurkan untuk menyembunyikan lamaran dan mengumumkan pernikahan.
Alhamdulillah, hanya beberapa orang terdekat yang mengetahui hal ini, demi menjaga kebaikan dan ketenangan bersama.

Terima kasih untuk teman-temanku yang telah menjaga rahasia ini dengan baik.
Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan, perlindungan, dan keberkahan untuk kita semua.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin 🤍

Bertumbuh Bersama

Setelah pertunangan, perjalanan ini tidak selalu mudah.
Beliau merintis segalanya dengan usaha dan tanggung jawabnya sendiri, tanpa kehadiran ayah yang telah lebih dulu berpulang.
Saat itu, setelah menyelesaikan masa mondok, beliau langsung memulai langkah baru dengan merintis usaha, yang tentu membutuhkan waktu dan proses untuk mengumpulkan bekal menuju pernikahan.

Sejak awal pertunangan hingga hampir dua tahun berjalan, aku dan beliau menjalani hubungan jarak jauh antara Jakarta dan Madura.
Waktu pertemuan sangat terbatas, bahkan komunikasi pun tidak selalu intens.
Bagi sebagian orang, cara kami mungkin terasa berbeda—tidak banyak telepon, tidak pula berbincang berjam-jam. Namun memang begitulah adanya; kami sama-sama lebih nyaman saling menyapa lewat pesan seperlunya.

Di tengah kesibukan beliau penat lelah bekerja sehari-hari, beliau tetap menyempatkan diri menghadiri majelis rutinan alumni PP Al-Khoziny Buduran yang tergabung dalam Is-Aluny Jabodetabek yang Kadang Ada tiap bulanNya di jakarta.
Bagiku, itu adalah bentuk ikhtiar menjaga ilmu dan lingkungan baik, meski waktu dan tenaga terbatas.

Sementara itu, aku menjalani hari-hariku dengan menghadiri majelis dari satu tempat ke tempat lain di waktu luang.
Aku sadar, aku adalah orang awam yang tidak pernah mondok. Sejak kecil ada keinginan besar untuk menempuh jalan itu, namun takdir berkata lain.
Meski demikian, aku tidak pernah berhenti mencari cara agar tetap bisa belajar dan menuntut ilmu—sebab bagiku, belajar adalah bentuk syukur dan ikhtiar memperbaiki diri.

Ada masa di mana banyak suara datang, menyarankan agar pertunangan tidak berlangsung terlalu lama.
Bukan karena tidak ingin segera, melainkan karena setiap orang memiliki jalan, waktu, dan ujian yang berbeda-beda.

Aku memilih bersabar, menjaga doa, dan mempercayai takdir Allah.
Sebab aku yakin, setiap usaha yang dijalani dengan niat baik dan kesabaran, akan Allah cukupkan pada waktu terbaik-Nya.
---

Menuju Hari Suci

Kini, lebih dari dua tahun kami belajar bersabar, menjaga niat, dan saling menguatkan dalam penantian yang panjang.
Setiap proses kami jalani dengan doa dan usaha, seraya percaya bahwa Allah selalu menyiapkan waktu terbaik bagi setiap hamba-Nya.

Dengan izin Allah dan kesepakatan keluarga, hari bahagia pun akhirnya ditetapkan.
InsyaAllah, pada 24 Maret 2026, ikatan janji suci akan kami laksanakan—
bukan karena telah sempurna, melainkan karena telah siap melangkah, bertumbuh, dan membersamai satu sama lain dalam ridha-Nya.

Dengan segala kerendahan hati, kami memohon doa dari para guru, orang tua, keluarga, sahabat, dan seluruh teman-teman tercinta.
Semoga langkah ini dimudahkan, niat kami diluruskan, rumah tangga yang akan kami bangun dipenuhi sakinah, mawaddah, wa rahmah, serta keberkahan hingga akhir hayat.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin 🤍 🩷🤲🏻

Penutup

Mungkin hanya ini yang dapat aku ceritakan.
Sebenarnya masih banyak kisah di balik perjalanan ini, namun sengaja aku ringkas agar tetap singkat dan nyaman dibaca.
Terima kasih untuk teman-teman yang telah membaca kisah kami, membersamai, mendoakan, dan memahami setiap prosesnya. 😊🙏🏻

Semoga setiap langkah yang telah dilalui menjadi kebaikan dan keberkahan. Aamiin ya mujibas saailiin...

 

(IFFAH & IDI) 🤲🏻🫶🏻🌷

Kirim Hadiah

Kehadiran dan doa restu Bapak/Ibu/Saudara/i merupakan karunia yang sangat berarti bagi kami, namun apabila memberi hadiah merupakan ungkapan tanda kasih, silakan mengirimkan ke rekening berikut. Terima kasih, Jazakumullahu khairan.

a.n Iffah Ramadhani

083852721427

a.n Subaidi

085956585808

a.n Subaidi

1851585821